HEADLINEWS
PENGUNJUNG ONLINE
Ada 243 tamu onlineSearch
PARIWARA
| Sejak Kab. Pasaman Dipimpin Benny Utama Selain Bertabur Prestasi, No 4 Besar di Pulau Sumatera Tak bisa dipungkiri dan memang kenyataan fakta membuktikan bahwa Kabupaten Pasaman yang dinahkhodai oleh Benny Utama dari waktu kewaktu te [ ... ] |
| Lainnya |
| Payakumbuh Menuju Kota Penghasil Sapi Potong Terbesar |
| Ditulis oleh Mingguan BAKINNews |
| Minggu, 15 Agustus 2010 04:46 |
|
PEMERINTAH Propinsi Sumatera Barat sangat serius menyiapkan Kota Payakumbuh sebagai kota penghasil sapi potong terbesar di Sumatera Barat. Dorongan tersebut, tidak terlepas dari kebijakan pembangunan nasional, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara swasembada daging di tahun 2014. Kebijakan nasional itu, disikapi positif pasangan Walikota Payakumbuh H. Josrizal Zain dan Wawako H. Syamsul Bahri. Sejak keduanya menjabat pimpinan kota ini tahun 2007, peluang tersebut sudah dibacanya. Dan sejak itu pula bersama SKPD terkait, program peternakan sapi lebih difokuskan. Maka dibuatlah proposal pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) modern, dan pembangunan pasar ternak yang lebih represtatif. Semangat tak kenal menyerah jajaran Dinas Peternakan Payakumbuh (baca Dinas Pertanian, Red) dalam mengaplikasikan kebijakan pembangunan daerah dibidang peternakan ini, berbuah manis. Pemerintahan Spanyol, memberikan bantuan dana pengadaan mesin pemotong sapi senilai Rp23 miliar. Lalu, Pemprov, plus dana pendamping APBD Payakumbuh, mengalokasikan dana buat pembangunan gedung RPH senilai Rp6 Miliyar. Mesin pemotong sapi, konon kabar berstandar Internasional, dan satu-satunya di Indonesia itu, sudah tersedia di Jakarta. Begitu bangunan fisik RPH rampung, mesin tersebut bakal sampai ke kota ini. Sementara, bangunan RPH diprediksi rampung tahun 2011. Pembangunan RPH sudah dimulai sejak awal Juli 2010, dengan peletakan batu pertamanya dilakukan Dirjen Peternakan Kementerian Pertanian RI. Sejalan dengan program itu, pasangan kepala daerah pilihan rakyat ini, kini tengah merangkul investasi lokal, agar para PNS yang punya rejeki lebih, ikut sato sakaki membangun usaha peternakan ini. Maka diluncurkanlah program sapi seduaan dengan target, minimal tahun 2010 ini, mencapai 200 ekor sapi. Para pejabat di kota itu, termasuk para perantau yang berada di kota-kota lainnya di Pulau Jawa dan Batam, diajak Walikota dan Wawako, untuk membangun kampung halaman lewat sapi seduaan. Per Juli 2010, sudah tercatat 100 sapi milik PNS Payakumbuh yang diperanak peternak di kota itu. Perantau yang berminat, menurut Kepala Kantor Penanaman Modal Payakumbuh, Ir. Mediar Indra, masih menunggu reguluasi yang kini tengah disiapkan pemko. Umunmya para perantau antusias dengan program strategik itu, tapi mereka ingin jaminan modal mereka dari pemko. “Itulah yang kini tengah kita siapkan,” ucap Mediar Indra. Masih program seduaan ini, ternyata di Sumatera Barat, Payakumbuh lebih maju ketimbang kota/kabupaten lainnya. Program ini, mulai dikembangkan di Payakumbuh sejak tahun 2004. Tapi, hingga dua tahun ke depan, jalannya masih adem. Barulah tahun 2006 program ini menjadi primadona Dinas Peternakan, dan terus berkembang hingga sekarang. Laporan Kabid Peternakan drh. Haryeni, dalam empat tahun ini tercatat 750 ekor sapi milik pemko yang berada di tanga Walikota Josrizal Zain dan Wawako Syamsul Bahri, mengaku, sudah perintahkan stafnya untuk melakukan kerjasama bidang ekonomi dengan kota-kota di Riau dan Kepri, seperti Pekanbaru, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang dan Batam. Dari kota-kota tersebut, yang sudah terjalin kerjasamanya, baru dengan Kota Pekanbaru, Batam dan Tanjung Balai Karimun. Dalam setahun terakhir, Payakumbuh sudah mengirim hasil pertanian tanaman pangan, holtikultura dan produksi industri makanan dan kerajinan ke kota tersebut.
Kebutuhan daging super untuk mal-mal itu harus disuplai dari Payakumbuh. Begitu juga kebutuhan daging perusahaan internasional perminyakan Caltex. Sektor peternakan sapi yang mampu mengkatrol peningkatan ekonomi masyarakat, juga parallel dengan peternakan kuda dan ternak kecil serta unggas.
Pasar Ternak Baru Dibangun, Basirosok Dipertahankan BUDAYA basirosok yang selama ini dilakukan pedagang ternak dengan calon pembeli, dalam melakukan transaksi, tetap akan dipertahankan. Budaya peninggalan nenek moyang ini, khas Minangkabau yang tidak boleh hilang, meski pembangunan Pasar Ternak Payakumbuh di Kelurahan Kotopanjang Payobasung, Kecamatan Payakumbuh Timur, sudah dilengkapi fasilitas sesuai dengan kemajuan tekhnologi. “Budaya basirosok itu tidak boleh hilang dan harus dilestarikan. Menyaksikan orang basirosok saat melakukan transaksi, sungguh sesuatu pemandangan yang indah dan unik, ucap Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat Ir. Edwardi, saat ditemui wartawan koran ini, saat berkunjung ke Payakumbuh, dalam rangka menyiapkan Livestock Expo 2010 Sumbar, baru-baru ini. Menurut Edwardi, pembangunan pasar ternak di Kotopanjang Payobasung, untuk menunjang rumah potong hewan modern yang sekarang juga telah dimulai pembangunannya, hanya berseberangan jalan dengan pasar ternak. Pasar ternak ini, dikatakan, ditunjang dengan berbagai fasilitas, ketimbang pasar ternak tradisional yang banyak dimiliki kota dan kabupaten lainnya di Sumbar. Kabid Peternakan Dinas Pertanian Payakumbuh, drh. Haryeni, ketika dihubungi, menginformasikan, pasar ternak yang dibangun pemko, dimulai sejak tahun 2009, didukung dana APBN Rp364 juta. Belum rampung, dan akan dilanjutkan lagi dalam tahun anggaran 2010 dan 2011. Sampai pasar ternak ini siap 100%, jumlah dana yang dihabiskan bakal mencapai lebih kurang Rp2,5 Miliyar. Tahun anggaran berjalan ini, akan dilakukan pembangunan tambahan los dan pelataran ternak, serta jalan masuk pasar dan penyempurnaan pagar lokasi pasar ternak. Dana tersedia, juga bantuan APBN sebesar Rp392 juta. Sementara, fasilitas yang sudah ada sekarang ini, los ternak, menara air dan sebagian pagar kawasan pasar ternak. Pasar ternak yang terletak di atas tanah seluas hektar lebih ini, nantinya akan dilengkapi dengan tambatan ternak yang bakal mampu menampung ratusan ternak. Dua los yang disiapkan, juga sekaligus buat tempat inap ternak. Sehingga, peternak tidak perlu membawa ternaknya pulang, kalau ternaknya belum terjual. Menurut Haryeni, sesuai rencana, 2011 nanti, pasar ternak tersebut sudah operasional, menyusul dibangunnya tambahan fasilitas lagi, berupa bangunan kantor, mushalla, MCK, kantin, halte pembeli, tempat penurunan ternak. Areal pasar ternak itu, juga akan dibeton dan dilengkapi dengan sistem drainase yang baik. Pasar ini, juga punya rumah kompos buat pupuk organik. Setiap ternak yang akan dijual, lebih dulu naik ke atas timbangan digital, untuk selanjutnya masuk los, menunggu pembeli yang datang. Di papan informasi, para pembeli bakal mengetahui harga berat hidup ternak setiap hari. Lalu, kalau terjadi transaksi, terserah pedagang dan pembeli, apakah dengan sistem basirosok atau secara transparan, jelas Haryeni. BIN 763
Spanyol Bantu Mesin Pemotong Hewan Senilai Rp23 Milyar SUMATERA Barat sebagai salah satu provinsi sentra peternakan sapi potong di Indonesia , sangat bergantung dengan Kota Payakumbuh. Kota yang berada di gerbang timur Sumatera Barat itu, sekarang ini tengah menyiapkan pembangunan Rumah Potong Hewan (RPH) modern berkelas internasional. Mesin pemotong hewannya senilai Rp23 Miliar, dibantu pemerintahan Spanyol. Begitu bangunan RPH-nya rampung, mesin pemotong tersebut segera meluncur ke kota ini. Kepala Dinas Peternakan Sumatera Barat Ir. Edwardi, mengemukakan, prosedur pengerjaan mesin pemotong hewan itu, tak ada lagi campur tangan manusia. Seluruhnya, mesin yang bekerja. Amat praktis dan benilai tekhnologi tinggi, sebutnya. “Ini merupakan pembangunan RPH modern pertama di Indonesia,” katanya. Kemampuan mesinnya, mampu memotong 18.000 sapi per tahun atau 50 sapi perhari. Secara berangsur, angka maksimal itu akan terpenuhi, jika managemen pemasarannya cukup lihai mencari pangsa pasar. “Persoalan pemasaran inilah nantinya yang akan dipasamokan, antara pemko dengan pemprop. “Yang pasti, prasarana dan sarana ini kita siapkan dulu,” jelas Edwardi. RPH yang terletak di atas tanah seluas 2 hektar itu, dijadwalkan rampung tahun 2011. Dilengkapi dengan gedung perkatoran dan ruang laboratarium, RPH tersebut akan menghabiskan dana Rp6 Miliyar. Sumber dananya, berasal dari APBN, APBD Propinsi dan APBD Payakumbuh. Gedung RPH Payakumbuh, juga disiapkan, untuk kegiatan ilmiah. Mahasiswa jurusan peternakan Unand, tidak tertutup kemungkinan bakal menjalani praktek lapangan dan penelitian di RPH Payakumbuh.BIN 763
Unand Buka Program S2 Ilmu Peternakan UNIVERSITAS Andalas Padang, lirik Payakumbuh sebagai lokasi program pasca sarjana (S2), untuk program studi ilmu peternakan. Tahun akademis 2010/2011 ini, Unand akan menerima 80 mahasiswa yang diharapkan bakal berdatangan dari Riau, Jambi dan dari berbagai kota/kabupaten di Sumatera Barat sendiri. Tempat perkuliahannya, yaitu di Fakultas Ekonomi Multi Kampus Unand di Jalan Rky. Rasuna Said Payakumbuh. Dalam rangka sosialisasi program pasca sarjana itu, pihak Unand menurunkan lima professor peternakannya ke Payakumbuh, dipimpin langsung Asdir II Program Pasca Sarjana Unand, Prof. Dr. Ir. Aswaldi Anwar, MS, ke Payakumbuh, awal Juli lalu. Payakumbuh, menurut penilaian Unand, kota potensi dalam bidang peternakan. Pihak Unand menilai, di kota ini harus didirikan lembaga akademis yang akan menunjang potensi tersebut. Makanya, di hadapan Walikota H. Josrizal Zain, Wawako H. Syamsul Bahri, Sekdako H. Irwandi, serta seluruh pimpinan SKPD dan sejumlah pimpinan unit kerja, Aswaldi Anwar dan Prof. Dr. Mirzal, menjelaskan secara detail tentang visi dan misi Unand membuka program S2 Ilmu Peternakan di Payakumbuh. Menurut kedua profesor itu, Kota Payakumbuh yang berada di lintasan Sumbar-Riau dari arah Timur, adalah kota yang potensi sebagai pusat sentra sapi potong dan unggas, dibanding kota dan kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Karena itu, kebutuhan SDM kualifikasi S2, untuk mengkaji dan meneliti masalah peternakan ke depan, perlu disiapkan. Program studinya, di antaranya produksi ternak, nutrisi dan pakan ternak, pembangunan peternakan, sangat relevan dengan konsep Pemko Payakumbuh untuk menjadikan Payakumbuh sebagai sentra ternak terbesar di Sumatera Barat. Menurut Aswaldi Anwar, program pasca sarjana Ilmu Peternakan Unand, sesuai dengan SK Dikti No. 163/2007 tentang ilmu peternakan, sudah terakdetasi “A”, dengan SK No. 007/BAN-PT/Ak-VII/S2/VII/2009. Jumlah tenaga dosennya, semuanya 42 orang bergelar doctor dan 20 dosen diantaranya, tercatat sebagai guru besar. Ada kemudahan bagi calon mahasiswa yang mendaftar tahun akademis perdana ini, tidak menjalani test, tidak harus sarjana peternakan atau pertanian, tapi juga bisa kalangan guru yang jurusannya terkait dengan itu, seperti jurusan biologi dan kimia. Lainnya, tidak berpedomaman kepada IP calon mahasiswa. Walikota Payakumbuh H. Josrizal Zain, mengajak, seluruhwarga kota dan PNS di jajaran Pemko Payakumbuh, menangkap peluang ini. “Saya minta, melalui BKD, agar ikut membuka jalan bagi PNS untuk menambah SDM yang bersangkutan, melalui program pasca sarjanan ini,” tegasnya. Kalau diperlukan, SKPD terkait, diminta walikota, menyusun program peningkatan SDM PNS, agar membiaya PNS yang mengambil pasca sarjana ini. “Rencana Unand ini, akan mempercepat mimpi walikota untuk menjadikan Payakumbuh sebagai Kota Pendidikan dan kota penghasil ternak atau daging sapi terbesar di Sumatera,” simpulnya. BIN 763
|
10 TERPOPULER
- Menyorot Tingkah Laku Gamawan Fauzi
- Angka 5 yang Sempurna
- Edannya Dunia Maya VGMC, Ratusan PNS Terhenyah
- DINAS KESEHATAN PROPINSI SUMATERA BARAT
- Berapa Honor Sebenarnya di ISI Padang Panjang? Irsyad Adam Hanya Dibayar Rp. 40 Ribu Per Bulan
- Terungkap Setelah Direktur PT. RHM Mengamuk di Kantor Dinas PU
- Fenomena Kepala Botak di Pemkab Solok
- Payakumbuh Menuju Kota Penghasil Sapi Potong Terbesar
- Saksi Kecurangan Pilkada Pasbar Buka Suara di MK
- Ada Apa Dengan Guru Idris Sardi Dan Kakak Kandung Hoerijah Adam Pendiri ISI
Pengunjung Web







![]() | Hari Ini | 2209 |
![]() | Kemarin | 2200 |
![]() | Minggu Ini | 17259 |
![]() | Minggu Kemaren | 73681 |
![]() | Bulan Ini | 176465 |
![]() | Bulan Kemaren | 179375 |
![]() | Semuanya | 3443677 |
Your IP: 23.22.252.150
,
Today: Mei 23, 2013
KOTA
| Pembahasan Tanah 240 Ha Kembali Mentok : 22-05-2013 | Mingguan BAKINNews Pansus Dewan Kembalikan Rumusan Tim Pemko Solok (Sumbar), BAKINNews---Pembahasan Kasus Tanah Konsolidasi 240 Ha Kel. Nan Balimo Kec. Tanjung Harapan antara Pansus DPRD Kab. Solok dengan Pemko So [ ... ] |
Lainnya
|
KABUPATEN
| Oknum Anggota DPRD Pasaman Barat Diduga Main Proyek 20-05-2013 | Mingguan BAKINNews Kejari Segera Sikapi Perangai Anggota Dewan Pasaman Barat (Sumbar),BAKINNews---Perangai oknum anggota DPRD Kab. Pasaman Barat yang diduga melakukan intervensi kepada sejumlah SKPD dalam meminta [ ... ] |
Lainnya
|
INVESTIGASI
| Edi Warlis Tokoh Masyarakat Solok 09-06-2010 | Mingguan BAKINNews Hati-Hati Menerima Ajaran Agama Solok, BAKINNews--- Hal yang sama juga dikomentari oleh Edi Warlis Tokoh Masyarakat Solok, Jum’at (4/6) di Solok terhadap Ajaran sesat dan menyesatkan umat Islam yan [ ... ] |
| Lainnya |
POLITIK
| Bupati Tuntut PNS Berlaku Netral Dalam Pemilu Kada 12-06-2010 | Mingguan BAKINNews Agam, BAKINNews---Bupati Agam H. Aristo Munandar buka kartu, tentang keberadaan Dinas Kominfo Agam. Menurutnya, Dinas Kominfo bukan tukang foto, tetapi corong Pemkab Agam. Fungsinya sangat strategis d [ ... ] |
| Lainnya |
Situs Resmi Portal Mingguan Bakinnews.com |
Developer by Multisoft 165 | Qinqua.com













